Contoh Analisa Komponen-komponen Penelitian Tentang Satwa Liar




Judul Penelitian yang Digunakan:
Comparing Spatial Capture–recapture Modeling and Nest Count Methods to Estimate Orangutan Densities in the Wehea Forest, East Kalimantan, Indonesia

Komponen-komponen penelitian yang dimaksud diantaranya latar belakang teori (background theory), fakta (facts), rumusan masalah/pertanyaan penelitian (research questions), tujuan (objectives), metode (methods), analisis data (data analysis),  dan hipotesis (hypothesis).

Jadi setelah dianalisa, didapatkan isi dari komponen-komponen tersebut:

1.    Background Theory
1. Dalam metode Nest Surveys, tempat tidur (nests/sarang) yang dibangun oleh Orangutang setiap malam digunakan untuk menghitung sebuah kepadatan individu-individu dalam sebuah area. Semua nests yang terlihat dari line transect atau di dalam sebuah plot dihitung; perhitungan nests kemudian diubah menjadi kepadatan nest/sarang dengan memisahkan jumlah nests yang terhitung oleh area yang tersurvei, dimana baik yang diketahui maupun yang ditaksir menggunakan sebuah fungsi deteksi.
2. Kelemahan metode Nest Surveys yaitu metode ini mengandalkan asumsi pada deteksi yang sempurna, meskipun pada kenyataannya pengamat dapat melewatkan nests. Selain itu pada parameter-parameter yang digunakan untuk mengubah kepadatan nest ke dalam kepadatan Orangutan (p, r, dan t). Proporsi pembuat sarang dalam populasi (p) dan laju dimana nests diproduksi (r) harus didasarkan pada nilai-nilai yang diamati dari populasi-populasi yang diketahui, dan laju kerusakan nest (t) juga harus didasarkan pada pengamatan-pengamatan panjang umur sarang dalam sebuah area.
3. Spatial capture–recapture modeling (SCR) memungkinkan perhitungan kepadatan populasi dari ‘penangkapan-penangkapan’ hewan-hewan individual yang didapatkan menggunakan perangkap-perangkap kamera. Kepadatan ditaksir sebagai jumlah individual-individual yang ‘tertangkap’ di dalam beberapa area yang digambarkan,  biasanya ditentukan dengan susunan jebakan kamera yang ditambah sebuah area penyangga.
4. Pemodelan SCR menghitung hewan-hewan dengan sendirinya dan dengan demikian tidak menunjukkan masalah-masalah yang berhubungan untuk mengubah tanda-tanda tidak langsung ke dalam kepadatan-kepadatan hewan. Selain itu jika ditempatkan dengan tepat perangkap-perangkap kamera dapat juga menyediakan informasi tambahan mengenai penggunaan habitat, perilaku, dan bahkan demografi.

 Latar belakang teori memuat alasan dilakukannya penelitian tentang satwa liar ini, sehingga alasan tersebut seringkali diisi oleh teori maupun hasil penelitian lain sebelumnya.

2.    Facts
1. Spesies Orangutan Bornean diklasifikasikan oleh IUCN sebagai terancam punah dan populasi Orangutan Bornean telah menurun di atas 50% dalam 60 tahun terakhir.
2. Penyebab-penyebab dari penurunan populasi Orangutan adalah kehilangan habitat yang luas dan fragmentasi dikarenakan penebangan, penambangan, perluasan penanaman minyak sawit dan akasia, dan api, dan konversi hutan berlanjut pada laju yang cepat.
3. Sebuah studi baru-baru ini secara bersamaan menggunakan nest surveys dan perangkap kamera untuk menaksir kelimpahan dan distribusi relatif simpanse dan Gorila disepanjang tipe-tipe habitat yang berbeda di Afrika Barat, dan menemukan bahwa kedua metode tersebut memproduksi hasil-hasil yang dapat dibandingkan secara kasar.
4. Studi-studi baru-baru ini menunjukkan bahwa Orangutan Bornean bergerak di tanah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan ‘penangkapan’ oleh perangkap kamera untuk Orangutan Bornean.

Walaupun latar belakang teori memuat fakta, namun fakta yang dimaksud di atas adalah fakta yang tidak menyatu dengan teori, dan umumnya berbentuk informasi umum maupun data dari hasil pengamatan/penelitian sebelumnya.
 
3.    Research Questions
Main:
1. Bagaimanakah perbandingan hasil, keuntungan, dan kerugian dari menggunakan metode perangkap kamera/pemodelan SCR dan metode Nest Surveys dalam menaksir kepadatan Orangutan?
Sub:
1. Manakah metode yang lebih cocok direkomendasikan untuk menaksir kepadatan Orangutan diantara kedua metode tersebut?

Pertanyaan penelitian/rumusan masalah seringkali disampaikan secara implisit, sehingga jika rumusan masalah tidak disampaikan secara eksplisit, maka pembaca dapat menuliskan rumusan masalah dari penelitian satwa liar ini berdasarkan pemikiran sendiri (subjektif).

4.    Objectives
1. Mengevaluasi kemungkinan dari menggunakan perangkap kamera dan pemodelan SCR untuk menaksir kepadatan Orangutan, menggunakan sebuah populasi Orangutan Bornean Timurlaut (P.p. morio) sebagai studi kasus.
2. Membandingkan hasil-hasil yang didapatkan menggunakan perangkap kamera dan pemodelan SCR dengan hasil-hasil yang didapatkan menggunakan sebuah metode yang mapan (nest surveys).
3. Menilai keuntungan dan kerugian dari kedua metode untuk membuat rekomendasi umum untuk peneliti-peneliti yang mengharapkan  untuk menaksir parameter-parameter populasi untuk Orangutan dan hewan-hewan yang sukar dipahami lainnya.

Tujuan penelitian umumnya tertulis secara eksplisit di latar belakang, contohnya pada penelitian tentang satwa liar ini. Tujuan lain yang tidak terlihat dapat dibuat oleh pembaca/penganalisis sendiri, yang tentunya disesuaikan dengan pertanyaan penelitian maupun isi dari latar belakang yang terkait.

5.    Methods
1. Studi lokasi
2. Perangkap kamera: pengumpulan data
3. Perhitungan dengan SCR
4. Nest surveys: pengumpulan data (memakai metode plot) dan perhitungan

Metode di atas berisi langkah-langkah pada saat pengambilan data. Sebenarnya, keterangan lanjut dari setiap langkah tersebut dapat diringkas, atau metode tersebut dapat dibagi menjadi SCR dan nest surveys saja.

6.    Data Analysis
1. Analisis perangkap kamera dan SCR (heterogenitas, frekuensi penangkapan, set data orangutan)
2. Analisis hasil Nest surveys (kepadatan orangutan)

Untuk alasan penyingkatan isi post, keterangan lanjut dari analisis data tidak dituliskan. Analisis data dalam penelitian tentang satwa liar umumnya mengolah data secara kuantitatif. Bagian kualitatifnya dapat berupa pembandingan kelebihan dan kekurangan masing-masing cara (SCR dan nest surveys).

7.    Hypothesis
1. Metode perangkap kamera/SCR dapat menjadi alat alternatif yang lebih baik untuk menaksir kepadatan orangutan dan primata yang sukar dipahami lainnya daripada metode Nest Surveys.

Hipotesis yang dibuat dapat bermacam-macam sesuai isi penelitian yang dianalisa. Hipotesis dalam penelitian tentang satwa liar ini bersifat implisit, sehingga penganalisa dapat menuliskan hipotesis berdasarkan garis besar penelitian maupun rumusan masalah (subjektif).

Contoh analisa komponen-komponen tersebut berguna untuk melihat kerangka/garis besar suatu penelitian setelah membaca isinya, dan sebagai inspirasi bagi peneliti lain untuk merancang isi komponen-komponen penelitiannya sendiri dengan lebih baik.

Pustaka: 
Spehar N. S., Loken B., Rayadin Y., and Royle A. J. 2015. Comparing Spatial Capture–recapture Modeling and Nest Count Methods to Estimate Orangutan Densities in the Wehea Forest, East Kalimantan, Indonesia. Biological Conservation. Volume 191: 185-193.

Comments