Tugas Arsitektur Pohon:
Dosen Pengampu: Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Dosen Pengampu: Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Kajian Model Arsitektur Pohon Mangenot Beserta Fungsinya dan Kegunaannya pada Daerah Aliran Sungai
Nama : YohanesNIM : 15/385733/KT/08150
Model Ke-5: Mangenot
Deskripsi Model Arsitektur Pohon Mangenot
Model arsitektur pohon Mangenot menurut Wiyono (2009), memiliki ciri spesifik dimana arah pertumbuhan batang utamanya mula-mula ortotropis lalu kemudian menjadi plagiotropis. Model arsitektur pohon ini menurut Ainillah (2011), bercabang dengan aksis vegetatif campuran dimana ada yang ekuivalen dan ada yang non ekuivalen. Model arsitektur pohon ini menurut Utami (2011), memiliki aksis vegetatif campuran antara plagiotropis dan ortotropis dengan pola pertumbuhan primer. Aksis vegetatif campuran tersebut terjadi karena bentuk pertumbuhannya terjadi dalam dua tahap yaitu, tahapan permulaan terjadi pada bagian proksimal dengan bentuk ortotropis, dan tahapan kedua terjadi pada bagian distal dengan bentuk plagiotropis. Model arsitektur pohon ini juga dikategorikan dalam theoretical model III.
Beberapa Fungsi Model Arsitektur Pohon Mangenot
- Sebagai Pengarah Jalan: model Mangenot yang bercabang plagiotropis menjadikan pohon dengan model ini lebih mudah terlihat untuk mengarahkan jalan dan mengamankan keselamatan pengendara bermotor
- Sebagai Peneduh: model Mangenot yang bercabang plagiotropis membuat naungannya semakin luas, sehingga menurut saya model ini dapat difungsikan sebagai peneduh
- Mengurangi Erosi: dengan tajuk pohon model Mangenot yang lebar (setelah pertumbuhan tahap kedua), tenaga hujan untuk mengerosi dapat berkurang karena ditahan oleh bagian-bagian pohon seperti daun, bunga, dan batang pada tajuk pohon
- Sebagai Pengisi Ruang Terbuka Hijau: Ruang Terbuka Hijau terbentuk dari kumpulan beberapa vegetasi. Banyak jenis tanaman yang dikelompokan sesuai bentuk dan fungsinya (Direktorat Jenderal Bina Marga, 1996). Persyaratan untuk menanam tanaman di suatu daerah antara lain:
- Disenangi dan tidak berbahaya bagi warganya
- Mampu tumbuh di lingkungan yang marjinal
- Tahan terhadap gangguan fisik
- Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang
- Cepat tumbuh, bernilai hias, dan arsitektural
- Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan
- Bibit mudah di dapat dengan harga yang murah/terjangkau oleh masyarakat
- Prioritas menggunakan vegetasi lokal
- Keanekaragaman hayati
(Suparwoko, 2012).
Walaupun tidak semua syarat di atas dapat terpenuhi oleh jenis-jenis pohon dalam model Mangenot, namun beberapa syarat dapat terpenuhi. Model arsitektur pohon Mangenot memiliki nilai arsitektural. Selain itu pohon secara umum dalam model apapun dapat menghasilkan O2, tidak terkecuali jenis-jenis pohon dalam model Mangenot. Sehingga sehubungan dengan kedua alasan tersebut, model Mangenot dapat difungsikan sebagai pengisi Ruang Terbuka Hijau.
Kegunaan Model Arsitektur Pohon Mangenot pada Daerah Aliran Sungai
Intersepsi dipengaruhi oleh aliran batang/stemflow, air lolos/throughfall, dan curah hujan total. Menurut Voight (1960) dalam Japar (2000), besarnya aliran batang dipengaruhi oleh bentuk batang, bentuk, dan tekstur daun serta kulit batang. Perbedaan tersebut dapat menyebabkan perbedaan kapasitas batang untuk menyimpan air. Penman (1996) dalam Khambali (2017) menyatakan bahwa aliran batang akan lebih besar pada jenis-jenis yang percabangannya tegak dan berkulit licin. Seyhan (1990) menyatakan bahwa, aliran batang secara ekologi dianggap penting sebab aliran ini diserap oleh tanah dari zona perakaran primer pada dasar pohon, selain itu volume aliran batang dapat dinyatakan sebagai suatu persentase presipitasi musiman atau tahunan untuk pembanding-pembanding hutan yang tumbuh pada iklim-iklim yang berlainan. Jika dihubungkan dengan model arsitektur pohon Mangenot, maka dapat dikatakan percabangannya cenderung tidak tegak (tegak yang dimaksud adalah fastigiatus). Sehingga menurut saya, aliran batang pada model ini akan lebih rendah. Jika aliran batang semakin rendah, maka intersepsi akan semakin besar (menurut rumus Ic = Pg – (Tf + Sf), dimana Ic: intersepsi tajuk, Pg: curah hujan total, Tf: air lolos, Sf: aliran batang (Asdak et al., 1998)). Jadi kegunaan model arsitektur pohon Mangenot pada daerah aliran sungai yaitu untuk mengurangi besarnya aliran batang, atau untuk memperbesar intersepsi tajuk.
Jenis pohon dalam model arsitektur Mangenot ini diantaranya menurut Utami (2011) yaitu Dicranolepsis persei (Thymeleaceae) dan Guatteria sp. (Annonaceae), serta menurut Wiyono (2009) yaitu Strychnos sp.
Gambar 2. Pohon Guatteria alata (Sumber: Useful Tropical Plants).
Daftar Pustaka
Ainillah, R. S. 2011. Korelasi Arsitektur Pohon Model Rauh dari Jenis Pinus merkusii Junghuhn & De Vriese dengan Konservasi Tanah dan Air di Area PHBM yang Ditanami Coffea arabica L. RPH Gambung KPH Bandung Selatan. Thesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Asdak C., P. G. Jarvis, P. van Gardingen, and A. Fraser. 1998. Rainfal Interception Loss in Unlogged and Logged Forest Areas of Central Kalimantan, Indonesia. Journal of Hydrology Volume 206: 237-244.
Direktorat Jenderal Bina Marga. 1996. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.
Japar, Y. S. 2000. Intersepsi Hujan pada Kelapa Dalam, Hibrida dan Genjah. Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Khambali. 2017. Model Perencanaan Vegetasi Hutan Kota. Andi. Yogyakarta.
Seyhan, E. 1990. Dasar-dasar Hidrologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Suparwoko. 2012. Analisis Pemilihan Jenis Tanaman dan Keamanan Pohon pada Lansekap Jalan Ruang Terbuka Hijau Tempat Pembuangan Akhir Sampah Piyungan Yogyakarta. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. Volume 4, Nomor 2: 125-136.
Useful Tropical Plants. http://tropical.theferns.info/image.php?id=Guatteria+alata. Diakses 11 Mei 2018.
Utami, M. S. 2011. Korelasi Arsitektur Pohon Model Rauh dari Rasamala (Altingia excelsa Noronha.) dan Model Arsitektur Roux dari Jenis Kopi (Coffea arabica L.) Terhadap Konservasi Tanah dan Air di Area PHBM RPH Gambung KPH Bandung Selatan. Thesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wiyono. 2009. Arsitektur Pohon. Laboratorium Dendrologi, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.


Comments
Post a Comment